Selasa, 22 April 2014

Senja Takkan Kembali Jingga

Senja itu identik dengan jingga. 
Tak ada senja tanpa jingga, kecuali mendung. 
Tak ada senja tanpa jingga kecuali hujan. 
Kini mendung itu datang menerkam jiwa yang menunggu semburat jingga.
Kini hujan datang mencerkam jiwa tergores luka menunggu datangnya senja.

______________________
Mungkin aku hanya wanita tolol, yang menunggu pangeran berjiwa karatan datang dari ufuk senja bersama jingga bernyawa. Dulunya pangeran berjiwa emas selalu menari-nari di depan senja tertawa bersama jingga, seakan akan memberi tahu 'aku akan kesana, suatu saat nanti' . Aku yang hanya manusia berjiwa tak tegar, diterjang angin, diterpa badai, melalui ini semua bersama dinginnya malam, menunggu detik detik senja bersama panas nya surya.

Aku sempat menyerah. Aku sempat lelah, Aku sempat berbalik arah, melangkah pergi, berlari mengejar yang pasti pasti. Tapi bodohnya aku, mempercayai pangeran berjiwa karatan. mempercayai dia akan berkunjung ke singgah sana yang jauh dalam lubuk hatiku, dan menetap disini. Selama menanti, aku sempatkan melontarkan pertanyaan 'berapa lama lagi aku akan menunggu wahai tuan ?'

Aku tak pernah dapat jawaban dari pertanyaan ku. Tak pernah ada tanda-tanda pangeran berjiwa karatan diujung senja sana memberi jawaban atas pertanyaan ini. Aku berfikir, terlalu bodoh kah aku mempertanyakan itu padamu ? Apa pertanyaan ku begitu sulit untuk dijawab ? Atau pertanyaan ku tak ada jawaban di balik kediaman mu ? Atau kau hanya fartamorgana yang tak pernah nyata tapi terlihat begitu jelas?

Kini aku mendapat jawaban seiring runtuhnya langit diatas kepalaku, bersama hebatnya badai menerjang jiwa lemah ku. Senja takkan datang lagi. Senja telah lenyap. Senja takkan datang bersama jingga. Jingga takkan kembali kesini lagi. Penantian ku usai, semua sia-sia. Pangeran berjiwa karatan takkan lagi nampak menari diujung senja. Kini dunia ku hanya ada malam yang menggigit dan siang yang menusuk. Aku takkan melihat senja lagi disini. Senja telah berganti gemuruh.

Perjalanan ku selesai. Selamat tinggal Pangeran Berjiwa Karatan. Kau ku peti-kan dalam jiwa ku yang sunyi.

Rabu, 16 April 2014

Untuk ayah-ku tersayang

Ada benarnya saat orang mengatakan, anak perempuan itu paling di sayang ayah. Dan percayalah, setiap anak perempuan merasakan kasih sayang lebih dari ayah untuknya.


Ada masanya ayah bersedih saat tak tau keberadaan anak perempuannya dimana.
untuk ayah ku tersayang, percayalah aku akan selalu kembali pulang kepelukan mu.

Ada masanya ayah takut saat anak perempuannya menemukan laki-laki lain yang menemani harinya.
untuk ayah, percayalah hanya ayah yang ku simpan dalam ruang yang jauh dihatiku.

Ada masanya ayah cemas saat anak perempuannya merasakan kasih sayang yang baru dari laki-laki lain.
untuk ayah, percayalah kasih sayang ayah takkan pernah bisa dia tandingi.

Ada masanya ayah curiga saat anak perempuannya terhanyut di dunia maya dan melupakan ayah.
untuk ayah, percayalah aku takkan pernah lupa dunia nyata ku dan keberadaan ayah disana.

Ada masanya ayah menangis saat anak perempuannya takkan tinggal lagi bersamanya suatu saat nanti.
untuk ayah, percayalah ayah tak pernah benar benar aku tinggalkan, aku hanya berpindah ke tempat baru.

Tanpa aku sadari, aku pernah menggores beberapa luka di hati ayah. Tapi ayah harus tahu, bahwa aku takkan pernah menggunakan 'pisau tajam' menggores luka ayah.
Saat aku kesal pada ayah, percayalah aku tak pernah benar benar membenci ayah.
Saat aku menjauh dari ayah, aku hanya ingin tahu seberapa takut ayah saat aku tak berada di dekat ayah. Saat aku menyakiti ayah, maafkan kebodohan ku yang melakukan itu.

Ayah, percayalah hanya ayah laki-laki terhebat didunia ini untukku.