Jumat, 17 Januari 2014

Depan dan Belakang

Semberut fajar terpampang indah dilangit membuat mata setiap orang menengadah dan berfikir betapa indah ciptaan tuhan, tapi itu tidak berlangsung lama. Sepersekian detik berikutnya tampak awan hitam tak ingin kalah menampakkan diri merusak semberut berwarna oranye di ufuk mentari, merubah susana hati, merusak pikiran, membawa "malas". Itu yang aku lakukan saat ini.

Ada bunyi. Bunyi ponsel meneriakkan suara 'avril lavigne' dengan salah satu debutnya 'let it go'. Bukan berteriak sih sebenarnya, aku hanya melebihkannya. Itu bunyi ponsel ku yang 4 hari belakangan aku setel menjadi ringtone handphoneku. Sesuai suasana hatiku.

Aku mengerjap-ngerjapkan mata, mengusir kantukku. mengumpulkan nyawa, menggerak-gerakkan badan, berdiri di tepi ranjang dan berharap malas ku segera pergi. Ku lirik lagi handphone-ku, melangkah ke jendela dan disanalah dia. Sahabat ku yang pendek dan kecil, melambai-lambaikan tangan dan menunjuk langit. Aku tau maksudnya. Ku langkah kan kaki gontai menuju pintu rumah, dan membuka kan pagar.

"lo lama banget bukain pintunya. Tisaaaa, lo udah ngaca pagi ini, oh my god, lo makin jelek dari hari ke hari" dasar lebay!
"lo mau masuk atau ngomentarin gue sih ? gue kunciin lo nih!"
"tapi ini penting! besok kita ke salon, oke?! lo gak liat apa itu kantung mata lo, kelopak mata lo, wajah lo mengkerut, badan lo gak sexy lagi, terlalu kurus, lo sadar gak..............................." blablabla Dina tampak seperti ibu yang kedapatan anaknya nyolong uang 1 miliyar. Kalau udah begini emang gak bakal ada habisnya, dan aku tidak tahan mendengarnya, kalau bukan sahabat ku, sudah ku biarkan dia terkurung di luar pagar!

______________

Aku melihat bayangan ku di depan pantulan cermin. kusam. jelek. Aku selalu begini semenjak 4 hari yang lalu. Semenjak hati ku hancur dan kepingannya entah dimana. Aku terlihat seperti zombie, kadang seperti vampir haus darah, atau tengkorak yang berusaha mencekik orang, begitu setiap harinya.

"lo lama banget ngacanya, walaupun diluar sana gerimis, hari ini lo gak boleh ikutan mendung menyedihakan juga, lo kan udah janji nemenin gue ngedet sama fadli, dan gue gak mau lo keliatan gak punya semangat hidup gini di depan fadli dan..... temannya"
"temannya ? " apa maksud manusia lebay ini ?
"ya gue nyuruh fadli bawa temannya biar ntar gue berduaan sama fadli lo gak ganggu gue, atau minta-minta gue cepat pulang. gak apa-apa juga kan, biar lo cepat dapet kecengan baru, anggap aja kita lagi double date" 
"apa-apa-an ini ? lo pikir............. hah!!! lo atur aja deh!"

_______________

Dua sejoli di depan ku ini mungkin sedang berfikir dunia cuma diciptain buat mereka berdua. lalu buat apa aku berada disini bersama seorang pria di sebelah ku yang sibuk dengan gadget keluaran terbarunya dan sepertinya dia sedang menikmati dunianya sendiri, juga. dan aku terkepung diantara dua dunia yang membosankan. Aku mengecek satu persatu akun media sosial ku, aku berhenti di twitter... ada satu dirrect message, dia! Aku bimbang membukanya apa tidak

"jadi kamu kuliah atau......"
"kuliah" aku segera menjawab pertanyaan pria gadget di samping ku dan meliriknya, gadgetnya terletak diatas meja dan gelap. Mungkin karna gadget-nya lelah beroperasi atau dia sudah bosan dengan dunia gadgetnya.
"oh... kita belum sempat berkenalan, aku gerald, kamu ?"
"Tisa Requirel, panggil Tisa aja"

_________________

Sejak hari pertemuan itu ke hari-hari berikutnya aku selalu bertemu gerald. Ini langkah baruku, mungkin gerald akan mengubah hari hari ku selanjutnya. Aku mulai bisa merasakan oksigen yang nyata, rasa makanan yang manis, dan keindahan dunia dengan mataku. Cinta yang baru.

One message, Gerald.
"Hari ini ada kesibukan ? kalau tidak, maukah kamu menjadi bolang lagi bersama ku ? "
Reply:
"Tentu. 15.30. aku tunggu dirumah"

Percayalah ini bukan perubahan seratus persen. semua perubahan ini tidak terlalu nyata. Aku masih memikirkan direct message twitter beberapa minggu yang lalu.

"bisakah kita seperti dulu lagi. seperti nya ini bukan dunia ku tanpa dirimu"

Aku masih sering menimbang nimbang kalimat itu, aku masih sering check direct message ku berharap ada DM yang lain, aku masih sering menangis tengah malam hingga membawa air mata ku tidur, aku masih sering termenung meski ditengah kerumunan banyak orang, ataupun ada gerald disamping ku.

Aku sering berfikir bisakah aku mengulang masa lalu ku atau terus melangkah kedepan tanpa mengacuhkan nya, membiarkannya menggapai ku kembali, apa aku akan membiarkan ini seperti ini terus menerus ?

Yolanda Islamy, 17 Januari 2014, 16:37. Padang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar